Resensi dan Review Dompet Ayah Sepatu Ibu J.S. Khairen

Saat seorang ibu sakit, seisi rumah panik. Saat seorang ayah sakit, kau mungkin baru tahu saat ia hendak sembuh.

Ibu dan Ayah adalah sosok penting dalam hidup kita, peran mereka dalam hidup selalu menjadi rumah. Rumah yang setiap orang miliki berbeda-beda, tidak selalu sama. Sama seperti kita, Ayah dan Ibu juga pertama kali menjalani hidup. Mereka terus belajar menjadi orangtua yang baik, kita terus belajar menjadi anak yang baik. Ayah dan Ibu kita dulu juga anak kesayangan orang tuanya.

Namun, dalam sebuah hubungan pasti selalu ada hal yang mengecewakan, membahagiakan, sedih, senang, dan perasaan campur aduk mewarnai kehidupan yang kita jalani. Semua tidak selalu berjalan dengan lancar, tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Saat itu terjadi, itulah yang akan menjadi pelajaran hingga kita terbiasa dan menjadi sosok yang lebih bijaksana.

Judul Buku: Dompet Ayah Sepatu Ibu

Genre: Novel Fiksi, Inspiratif, Drama Keluarga

Tahun terbit: 2023

Penerbit: PT Gramedia Widiasarana

Penulis: Jombang Santani Khairen

Profil Penulis

Penulis Dompet Ayah Sepatu Ibu adalah Jombang Santani Khairen atau biasa dikenal dengan J.S. Khairen. Penulis kelahiran tahun 1991 sudah melahirkan 18 novel dengan berbagai macam genre. Karya popular yang J.S. Khairen miliki seperti Bungkam suara, Kado terbaik, dan Melangkah. Selain itu, J.S. Khairen juga memiliki novel serial kami, yaitu Kami (Bukan) Sarjana Kertas, Kami (Bukan) Jongos Berdasi, Kami (Bukan) Generasi Bac*t, Kami (Bukan) Fakir Asmara. Lulusan FE UI tahun 2014 sering mengamati fenomena sosial ekonomi dan diangkat menjadi novel.

Sinopsis

Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu menceritakan dua tokoh utama bernama Asrul dan Zenna. Mereka memiliki nasib yang sama, hidup dalam kekurangan dan ingin memperbaiki hidupnya agar lebih baik. Asrul tinggal di lereng Merapi dan memiliki satu adik laki-laki, Asrul tinggal bersama uminya dan bapaknya menikah lagi. Sedangkan Zenna tinggal di lereng Singgalang dan Zenna anak tengah dari 11 bersaudara yang ditinggal meninggal bapaknya ketika ia mengejar mimpinya. Asrul dan Zenna penuh perjuangan untuk mengejar mimpinya. Perasaan ragu antara berhenti atau lanjut muncul dalam benak mereka.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Bangunan: Makna Sesungguhnya “Rumah” dalam Novel J.S. Khairen

Perjuangan dalam meraih mimpi dan keluar dari kemiskinan dengan sepatu baru untuk melangkah dan dompet yang harus terus diisi. Berbagai macam perjuangan dan usaha terus dilakukan, support dari orang terdekat juga menjadi salah satu penyemangat ketika jalan sudah terasa berat. Asrul yang menemukan bakatnya tanpa sengaja dan dari bakatnya tersebut mengalir harapan baru untuk membantu keluarganya.

Tidak hanya ujian dalam ekonomi, ujian yang berasal dari dalam diri Zenna yang tak disangka-sangka juga muncul. Zenna dituntut lagi untuk kuat menghadapinya, bukan suatu hal yang mudah ketika semua terlihat baik-baik saja nyatanya ada ujian di dalamnya.

Dari Asrul dan Zenna sama-sama memiliki tekad yang kuat untuk terus berjuang menghadapi masalah yang datang kadang tanpa diduga, kadang datang lagi. Siapa sangka dari berbagai macam masalah yang mereka hadapi, itu juga jalan yang mempersatukan mereka. Mereka berjuang dan membuktikan jika seorang anak mengejar mimpi bukan berarti kehilangan bakti.

Ulasan

Aku memang pencinta buku novel, namun buku novel yang satu ini selain tidak terlalu tebal ceritanya sangat menyentuh hati. Bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami, rasanya buku ini bercerita secara lengkap dari kita kecil hingga kita tua. Ketika membaca buku ini, seakan-akan kita tahu sedang di titik mana sekarang.

Perasaan yang aku alami ketika membaca buku ini sangat campur aduk, mulai dari rasa sangat haru pada awal bagian buku ini, senang, sakit, semangat, dan rasa bahagia lengkap ada di buku ini. Selama dua minggu aku mengkhatamkan buku ini.

Novel ini menggambarkan bagaimana sosok ayah yang bekerja keras dan ibu yang selalu ada untuk saling melengkapi. Air keringat ayah dan air mata ibu menjadi saksi perjalanan kehidupan yang kadang tidak kita sadari.

Dunia jahat, welcome to the jungle. Kita sudah terlahir di dunia, apakah kamu kalah dan menyerah? Lihat Ayahmu, lihat Ibumu mereka menyembunyikan sedih dan lelahnya untuk kebahagianmu. Jika mereka sudah tidak ada setidaknya ada orang yang bahagia hanya dengan adanya kamu. Novel ini memiliki jumlah 26 episode yang dimuat dalam 216 halaman. Setiap episode memiliki rasa dan kisah pelajaran masing-masing.

Aku suka dengan kutipan “Ini kisah tentang ayah dan ibu, yang cintanya lahir bahkan sebelum kau lahir, yang cintanya tumbuh bahkan sebelum kau bertumbuh.” Kutipan ini menjadi salah satu alasan dari seribu alasan kenapa kita harus bersyukur hadir di dunia ini.

Baca : Tulungagung: Seperti Buku Dengan Sampul Sederhana

Bagikan Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *