Kabupaten tempatku tinggal seperti buku dengan sampul sederhana, tetapi isinya indah dan menenangkan. Kabupaten dengan ciri khas batu marmer menyimpan kenangan masa kecil yang kurindu didalamnya. Termasuk Ibu,Ibumu, Ibumu, Ibumu kemudian ayahmu. Kata yang disebut sebanyak tiga kali kemudian baru menyebut kata Ayah.
Secara tersirat kalimat tersebut menunjukkan kemuliaan dan keutamaan seorang Ibu. Bukan sebuah kebetulan jika nama Ibu disebut sebanyak tiga kali, perjuangannya ketika mengandung, menyusui dan melahirkan menempatkan Ibu dalam posisi istimewa. Tidak berhenti disitu, Ibu merawatku, ia cuci kotoranku dengan tangannya, ia mengutamakanku dan lupa berdandan serta makanannya. Rusak pula jam tidurnya, berkat Ibu aku tumbuh cantik dan tersenyum menghadapi dunia.
Tahun ini, 92 tahun sudah Hari Ibu menjadi momen penting untuk mengenang perjuangan seluruh Ibu di Indonesia. Jika seorang Ibu tega meminta air susunya kembali, maka jiwa dan raga seorang anak tak cukup untuk membayarnya. Lalu apa tugas anak selanjutnya bagi Ibu hari ini? Apakah cukup dengan merayakannya? Tentu saja tidak. Kalau anak hanya merayakan Hari Ibu dan memotretnya pada 22 Desember, setelah itu Ibu kembali merasa sepi, tentu nelangsa.
Perjuangan Ibu sama beratnya ketika mengandung, menyusui, dan melahirkan dengan perjuangan Ibu ketika menemani anaknya tumbuh. Perjuangan Ibu tidak hanya memastikan sudah makan atau belum, tetapi memastikan anaknya dalam keadan baik-baik saja dimanapun berada. Arus globalisasi dan pergaulan luas menumbuhkan rasa khawatir mendalam bagi Ibu. Ketika badannya sudah mulai lelah, kekuatannya sudah mulai berkurang, ingatannya tak setajam dulu, Ia tetap berusaha menjadi yang terbaik.
Demi Ibu, bakti saja kurasa tak cukup untuk membalasnya. Setiap hari bangun pagi, mengurus kebutuhan sana-sini, membersihkan rumah, membantu saudara kesusahan, mengurus beberapa urusan sekolah, mencari kebutuhan rumah hingga keperluan keluarga yang mesti terpenuhi. Ini hanya secuil, tapi untukku yang menginjak usia dua puluhan terasa sedikit lelah mengikuti rutinitas itu.
Sungguh Ibu bukan hanya kata, namun peran yang luar biasa. Masih sedikit kutahu, Peran Ibu seperti manajer menghandle berbagai tugas dan mengambil keputusan dengan cepat dan yang paling terbaik. Tugas tersebut merupakan tanggungjawab yang takkan bisa lari darinya. Mulai pagi hingga petang menjelang tidur segala urusan keluarga berjalan karena Ibu, jika mengalami kesulitan, bisa dipecahkan dengan memanggi kata “Ibu”.
Urusan keluarga lain misalnya adalah mendidik anak, setelah melahirkan Ibu memiliki tanggungjawab mendidik anak. Aku pernah dengar jika ingin melihat masa depan suatu negara lihatlah pemudanya lihat juga perempuannya. Mengapa demikian? Karena perempuan yang akan menjadi sosok Ibu yaitu madrasatul ula, sekolah pertama bagi anaknya. Bagaimana anak berbicara, bertingkah laku, menumbuhkan empati, dan mendidik dari segi emosional sekolah pertamanya adalah Ibu.
Jika masih ada yang bertanya mengapa perempuan harus bersekolah tinggi-tinggi, tulisan ini bisa menjadi suara lirih dari hati mungil Ibu yang belum tersampaikan. Pertanyan-pertanyaan si kecil yang spontan tentu memerlukan jawaban yang tepat agar ia memiliki pemahaman yang tepat. Mendidik anak sama dengan menulis disebuah kertas putih bersih, apa yang kau gores dengan pensilmu itulah yang menjadi karyamu.
Lagi, menciptakan rasa aman dan nyaman untuk keluarga. Ketika seorang suami lelah bekerja, ketenangan dan senyum ramah perempuan menjadi obat baginya. Anak yang lelah menimba ilmu, aroma masakan Ibu menjadi energi baru baginya. Manajer terhebat di dunia ini layak untuk Ibu, mengatur keuangan, segala jenis keperluan sehari-hari dan merencanakan aktivitas keluarga serta membangun mimpinya.
Kulihat, peran Ibu multitasking, melakukan banyak hal secara bersamaan dengan waktu yang cepat. Sungguh mulia Ibu, mandi secara cepat sambil mengawasi anaknya, makan secara cepat sambal menyuapi anaknya, dandan secara cepat sambil mendandani anaknya. Aku melihat semuanya bu, peranmu sungguh luar biasa. Aku sedikit mengerti ketika aku mulai memasuki duniamu, membantumu sedikit demi sedikit. Ibu adalah tanggungjawab dan peran yang luar biasa di dunia ini.
Bahkan kata tersebut terselip dalam aspek kehidupan mulai Ibu Jari, Ibu Pertiwi, dan Ibu Kota. Kata Ibu terdapat pada kata-kata yang mengandung kata induk, pusat, dan utama. Keutamaan Ibu yang memiliki keyakinan kuat kepada anaknya pasti memiliki pengaruh besar terhadap anaknya.
Alexander putra Zeus seorang Raja Yunani Kuno, Ibunya selalu menanamkan “Nak, yakinlah engkau akan menjadi orang yang besar karena engkau adalah putra Zeus.” Semangat dan keyakinan seorang Ibu membentuk keyakinan kuat untuk membentuk rasa percaya diri terhadap anaknya. Ibu tidak pernah menagih syarat apapun untuk mencintaimu, balasan satu-satunya cinta dari seorang Ibu adalah kebahagiaanmu.